Kamis, 18 April 2013

HUBUNGAN KALAM, FILSAFAT DAN TASAWUF



A.    Titik Persamaan
Ilmu kalam, filsafat dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan, disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya penekatan kepanya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu tersebut membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.[1]
Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha dan mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengannya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia yang belum atau tidak dapat dijangkaunya atau tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha mencari kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.[2]

B.     Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam berpangkal pada pengakuan akan dasar-dasar keimanan sebagaimana yang disebutkan dalam Qur’an (naqliah), yang kemudian di lanjutkan dengan pembuktian secara rasional tentang kebenarannya dan menghilangkan keragu-raguan yang terdapat disekelilingnya dengan alasan-alasan logika. [3] Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialok keagamaan. Sebagai sebuah dialok keagaaman, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaannya ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional[4].
Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Seorang filosof mempelajari sesuatu persoalan dengan cara yang objektif dan dimulainya dengan keragu-raguan terhadap suatu persoalan. Setelah dipelajarinya ia baru keluar dari dengan suatu pendapat yang dipercayainya dan dibuktikan kebenarannya.[5] Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan (mengembarakan / mengelanakan) akal budi secara radilak (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun kecuali logika. Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity).[6]
Berkenaan dengan keberagaman kebenaran yang dihasilkan oleh logika maka di dalam filsafat dikenal dengan apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespondensi, kebenaran adalah persesuaian antara fakta dan data itu sendiri. dengan bahasa yang sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada dalam rasio dengan kenyataan yang sebenarnya di alam nyara. Selain itu juga ada kebenaran koherensi. Dalam pandangan koherensi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Disamping itu ada juga kebenaran pragmatic, dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan.
Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa. Ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio[7]. Dalam memecahkan persoalan tasawuf mencoba dengan wakilan batin, perasaan dan kesederhanaan berpola pikir dengan memandang dengan cara agama[8]. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenarannya dan mudah digambarkan dengan bahsa lambang, sehingga sangat interpretable (dapat di interpretasikan bermacam-macam). Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi atau ilham atau inspirasi yang dapat dari Tuhan kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu tasawuf adalah kebenaran hudhuri yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri.
Dalam perkembangannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Teologi rasional memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut[9]:
  1. Hanya terikat pada dogma-dogma yang jelas dan tegas disebut dalam Al-Qur’an dan hadis nabi, yakni ayat yang qath’i (teks yang tidak diinterpretasikan lagi kepada arti lain, selain arti harfinya).
  2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal.
Teologi tradisional memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
  1. Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti zhanni (teks yang boleh mengandung arti lain slain dari arti harfinya)
  2. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan bebruat
  3. Memberikan daya yang kecil kepada akal
Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman, sosial dan humaniora sedangkat filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoretis.
Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya) teologi berperan sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk mengenal rasio sebagai upaya mengenal Tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya langsung. Adapun tasawuf lebih berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya[10].

C.    Titik Singgung antara Ketiganya
Pertalian antara ilmu kalam dengan filsafat nampak jelas karena theologi Islam bercorak filsafat yang menunjukkan ada pengaruh pikiran-pikiran dan metode filsafat, sehingga banyak diantaranya para penulis menggolongkan ilmu teologi Islam kepada filsafat[11].
Goldziher (wafat 1931 M) ketika memberikan penghargaannya terhadap usaha-usaha golongan theology Islam untuk membela agama Islam, mengatakan bahwa pengenalan dunia Islam terhadap filsafat Aristoteles dan pengaruhnya terhadap pikiran-pikiran kegamaan dari tokoh-tokohnya merupakan bahaya yang sangat mengancam Islam. Usaha pemaduan (sinkretisme) antara agama dan filsafat tidak cukup menghindarikan bahaya tersebut, karena tidak mungkin di buat jembatan penghubung antara Aristoteles yang bercorak Neo-platonisme dan kepercayaan-kepercayaan Islam yang tidak bisa ditawar lagi. Kepercayaan tentang alam dalam suatu masa, tentang pemeliharaan Tuhan (al-Inayah al-Ilahiyah) terhadap ala mini sampai soal yang sekecil-kecinya dan tentang mu’jizat, semuanya itu tidak mungkin bertemu dengan pikiran-pikiran Aristoteles. Akan tetapi ada suatu aliran baru yang kebetulan dapat menjadi alat untuk menjaga agama Islam dan tradisi-tradisi pikirannya yang ada pada tokoh-tokohnya. Aliran tersebut ialah Theology islam (Ilmu Kalam).[12]
Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah pada pembicaraan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits. Ilmu kalam sering menempatkan dirinya pada kedua pendekatan ini (aqli dan naqli), suatu metode argumentasi yang dialektik. Jika pembicaraan ilmu kaam ini hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus dipegang oleh umat Islam, tanpa argumentasi rasional ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid (ilmu ‘aqoid).
Pembicaraan materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh, ilmu tauhid menerangkan bahwa Allah bersifat sama’ (mendengar), basher (melihat), kalam (berbicara), qudrah (kuasa). Namun ilmu kalam / tauhid tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya. Bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Qur’an. Dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipt merupakan pengaruh dari qudrah (kekuasaan) Allah.[13]
Pertanyaan ini sulit dijawab apabila hanya melandasakan diri pada ilmu tauhid atau ilmu kalam. Biasanya yang membicarakan tentang penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq (bagaimana merasakan) tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang sunah atau dianjurkan, tetapi justru termasuk hal yang diwajibkan.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Adapun pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketenteraman, serta upaya menyelematkan diri dari kemunafikan. Tidaklah cukup bagi seseorang yang hanya mengetahui batasan-batasannya. Hal ini karena terkadang seseorang yang sudah tahu batasan-batasan kemunafikanpun tetap saja melaksanannya.
Dalam kautannya dengan ilmu kalam. Ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid / ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid jika dilihat bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid.
Ilmu kalampun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan aqidah atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama salaf, hal itu harus ditolak. [14]
Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional di samping muatan naqliyah. Jika tidak diimbangi oleh kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan dan sentuhan secara qolbiyah.
Bagaimanapun amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, misalnya muncullah kekufuran. Begitu juga ilmu tauhid juga dapat memberikan kontribusi kepada ilmu tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya tauhid telah lenyap, akal timbullah penyakit kalbu seperti ujub, riya’ dan sombong. Andai kata manusia sadar bahwa Allah-lah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Kalau saja manusia sadar bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada. Sifat ujub dan riyah. Dari sinilah dapat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian kaum sufi)[15].



[1] Abdul Rozak, Rosihan Anwar. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia. 2006. hal. 39
[2] Ibid 1. hal 40
[3] A. Hanafi. Pengantar Teologhy Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna. 1992. hal. 30
[4] Ibid I. hal. 40
[5] Ibid II. hal. 30
[6] Ibid I. hal. 41
[7] Ibid I.
[8] A.Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009 hal24
[9] Ibid I. hal. 32
[10] Ibid I. hal. 42
[11] Ibid II. hal. 29
[12] Ibid II. hal. 29-30
[13] Ibid I. hal. 44
[14] Ibid I. hal. 46
[15] Ibid I. hal. 47

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar